QUNUT SHUBUH ADALAH SUNNAH
QUNUT SHUBUH ADALAH SUNNAH
KATA PENGANTAR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَالصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ.
Pelaksanaan Do’a Qunut di dalam Shalat khususnya Shalat
Shubuh ternyata memiliki banyak
pandangan Hukum, bagi kaum Muslimin yang sejak kecil terdidik dengan
cara Shalat yang menggunakan Qunut di waktu Shalat Shubuh dan kemudian mereka
tidak pernah mendalami Ilmu Agama mungkin akan mengira hukum Qunut adalah
Wajib. Namun bagi sebagian mereka yang mendalami Ilmu Agama di Pesantren karena
mengetahui Dasar Hukumnya akan mengatakan Qunut itu Sunnah. Dan ada pula
segolongan yang mengatakan Qunut itu
Hukumnya Bukan Wajib dan Bukan Sunnah.
Perihal Hukum Qunut ini kami telah mendapatkan banyak
cerita dari Orang – orang yang baru saja pulang menjalankan Ibadah Haji di
Tanah Suci Makkah, mereka selama ini telah meyakini bahwa Qunut itu Hukumnya
Sunnah ternyata setelah melihat kenyataan bahwa
di Makkah dan Madinah yang notabene sebagai pusat Islam namun disana
tidak mengenal adanya Qunut dalam Shalat mereka jadi ragu dan bahkan sempat
terlintas dalam pikiran mereka “Apakah tidak seyogyanya kita mengikuti
Syari’at Islam Seperti apa yang ada di Makkah, termasuk meninggalkan Qunut di
Waktu Shalat Shubuh.
Dari Cerita – cerita tersebut itulah kami merasa
terpanggil untuk meneliti dan mengumpulkan Dalil – dalil dari Hadits Nabi yang
terkait dengan Hukum Qunut di Waktu Shalat Shubuh. Di sini kami tidak bermaksud
mendeskriditkan sebuah Golongan yang anti Qunut, kami hanya ingin mengajak para
pembaca untuk bisa berpikir Obyektif dan Realistis serta mau belajar dan
meneliti Hadits – hadits Nabi yang terkait dengan Hukum Qunut.
Demikian Risalah ini kami susun semoga bermanfaat bagi
para pembaca Khusunya Kaum Muslimin, Aamiin.
PENULIS
BACAAN DO'A QUNUT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
اَللّهُمَّ اهْدِنِى
فِيْمَنْ
هَدَيْت،
وَعَافِنِى
فِيْمَنْ عَافَيْت، وَتَوَلَّنِى فِيْمَنْ تَوَلَّيْت، وَبَارِكْ لِى فِيْمَا
اَعْطَيْت، وَقِنِى بِرَحْمَتِكَ شَرَّ مَا قَضَيْت، فَإِنَّكَ تَقْضِيْ وَلاَ
يُقْضٰى
عَلَيْكَ،
وَاِنَّهُ
لاَ
يَذِلُّ
مَنْ
وَالَيْت،
وَلاَ
يَعِزُّ
مَنْ عَادَيْت، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْت، فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا
قَضَيْت، اَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْك، وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدِ نِالنَّبِيِّ
الأُمِّيِّ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارَكَ وَسَلَّمَ.
Artinya : Ya Alloh, berilah aku petunjuk sebagaimana orang – orang
yang telah Engkau beri petunjuk, berilah aku kesehatan sebagaimana orang –
orang yang telah Engkau beri kesehatan, berilah aku perlindungan sebagaimana
orang – orang yang telah Engkau beri perlindungan, berilah aku keberkahan di
dalam apa yang telah Engkau karuniakan, hindarkanlah aku dari taqdir yang
buruk, maka sesungguhnya hanya Engkaulah yang dapat memastikan dan tidak ada
lagi yang dapat memastikan, tidaklah hina orang yang mendapatkan perlindungan-Mu,
dan tidaklah mulia orang yang Engkau musuhi. Ya Tuhan kami, bertambah keberkahan-Mu dan bertambah pula
keluhuran – Mu.
Maka, segala puji hanya bagi-Mu atas segala apa yang telah Engkau tentukan. Aku
memohon ampun dan bertaubat kepada –
Mu, semoga rahmat dan kesejahteraan
Alloh senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW,
seorang nabi yang Ummi, juga kepada keluarga dan sahabatnya.
QUNUT
SHUBUH ADALAH SUNNAH
I.
Dalil –
dalil tentang
Qunut Shubuh
Dalil Ke – 1
عَنْ
اَنَسٍ اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَدْعُوْا
عَلَيْهِمْ ثُمَّ تَرَكَ فَأَمَّا فِى الصَّبْحِ فلم يَزَلْ يَقْنُتُ حَتَّى فَارَقَ
الدُّنْيَا.(
رواه البيهقي والدارقطنى جزء 3 صحيفة 504 )
Artinya : “Dari Sayyidina Anas bin Malik, bahwasanya Rosululloh SAW
Qunut satu bulan mendoakan celaka bagi orang-orang itu kemudian Qunut itu
ditinggalkan beliau. Adapun diwaktu Shubuh beliau selalu Qunut sampai
beliau meninggal dunia”. (HR. Imam Baihaqi dan
Daroquthni-Al Majmu’ juz III Shohifah 504).
Dalil Ke – 2
عَنْ اَنَسٍ اَنَّ رَسُوْلُ الله صَلَّى
الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا بَعْدَ الرُّكُوْعِ يَدْعُوْ عَلَى اَحْيَاءٍ
مِنْ اَحْيَاءِ الْعَرَبِ ثُمَّ تَرَكَهُ. ( رواه
البخارى ومسلم ). صحيح مسلم جز 5 صحيفة 180
Artinya : “Dari
Anas Ra. Bahwasanya Nabi Muhammad SAW. Qunut sebulan sesudah ruku’ memintakan celaka
bagi sebuah suku dari Arab Badui, kemudian Nabi meningggalkan Qunut itu”. (HR. Bukhori – Muslim lihat syarah Shahih Muslim 5 hal. 180).
Jelas bahwa yang
ditinggalkan itu adalah doa minta celakakan orang, bukan qunut pagi sebagaimana
yang biasa kita kerjakan.
Dalil
Ke – 3
عَنْ
اَنَسٍ قَالَ : كَانَ الْقُنُوْتَ فِى الْمَغْرِبِ وَالْفَجْرِ. رواه
البخارى. صحيح مسلم جز 1 صحيفة 127
Artinya
: “Dari Anas Ra. Beliau berkata : Bahwasanya
Nabi Muhammad SAW. Qunut pada Sholat Maghrib dan Shubuh”. (HR. Imam Bukhori-Shahih Bukhori I hal. 127).
Dalil Ke – 4
عَنِ
ابْنِ عَبَّاسٍ وَغَيْرِهِ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ
يُعَلِمُهُمْ هٰذَا الدُّعَاءَ لِيَدْعُوْا بِهِ فِى الْقُنُوْتِ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ.
( رواه
البيهقى )
Artinya : “Dari Ibnu Abbas Ra. Beliau berkata : Adalah Rosululloh SAW. Mengajarkan kepada kami Do’a Qunut untuk dibaca pada waktu Sholat
Shubuh, maka Ia sebut : Allohummahdinii sampai akhirnya”. (HR. Imam Baihaqi-lihat Baihaqi hal. 210).
Dalil
Ke – 5
عَنْ
اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوْعِ فِى صَلَاةِ الصُّبْحِ
فِى الرَّكْعَةِ الثَّانِيَّةِ رَفَعَ يَدَيْهِ فَيَدْعُوْا بِهٰذَ الدُّعَاءِ اَللّٰهُمَّ اهْدِنِيْ
فِيْمَنْ هَدَيْتَ اِلٰى اٰخِرِهِ. ( رواه الحكيم وصححه )
Artinya : Dari Abu Hurairah Ra. Beliau berkata : Adalah
Rosululoh SAW, apabila mengangkat kepalanya dari ruku' dalam Sholat Subuh pada
roka'at yang kedua, mengangkat kedua tangannya dan berdoa :"
Allohummahdinii fiman hadaita " (
HR. Imam Hakim dan beliau katakan ini Hadis Sohih )
Dalil Ke – 6
عَنْ اَنَسٍ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ فِى الْقُنُوْتِ. (رواه البيهقى)
Artinya : “Dari Anas Ra. Bahwasanya Nabi Muhammad SAW mengangkat Dua
tangannya ketika Qunut”. HR. Imam Baihaqi-Baihaqi II hal. 211.
Sangatlah jelas bahwa Nabi kita bukan cuma
melakukan Do’a Qunut, tetapi mengangkat tantangannya ketika Qunut, yakni yang
dilakukan beliau dalam waktu – waktu yang lain.
Dalil
Ke – 7
Telah
diriwayatkan begini :
عَنِ
ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِى صَلَاةِ الصُّبْحِ وَفِى وِتْرِ اللَّيْلِ بِهٰؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ
اَللَّهُمَّ اهْدِنِى اِلٰى اٰخِرِهِ. ( رواه
البيهقى
)
Artinya :
“ Dari Ibnu Abbas Ra. adalah Rosululloh SAW Qunut pada Shalat Shubuh dan
pada Shalat Witir dengan kalimat-kalimat : Allahummahdini dst...”. ( HR. Imam Baihaqi ), lihat juz II hal. 210.
Maka dengan Dalil – dalil ini nyatalah bahwa
Hadits-hadits Qunut itu tersebut dalam Kitab-kitab Bukhari, Muslim, Ibnu Majah,
Abu Daud, Nasa’i dan Baihaqi.
Dalil
Ke – 8
Telah
diriwayatkan begini :
عَنْ اَنَسٍ أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ الْقُنُوْتِ
فِى صَلَاةِ الصُّبْحِ قَبْلَ الرُّكُوْعِ اَوْ بَعْدَهُ، فَقَالَ كِلَاهُمَا نَفْعَلَ
قَبْلُ وَبَعْدُ. ( رواه ابن ماجه )
Artinya : “Dari Anas, bahwa ia ditanya Orang tentang Qunut dalam Shalat
Shubuh, sebelum Ruku’ atau sesudah Ruku’, maka jawabnya : Kedua – duanya kami lakukan”. ( HR. Imam Ibnu Majah ) Ibnu Majah juz I hal.
259-360.
Jadi,
Anas bin Malik berqunut pada Shalat Shubuh. Anas bin Malik adalah seorang
Sahabat Nabi yang utama, yang mengkhidmati Nabi selama 10 tahun. Adalah masuk akal bahwa perbuatan
beliau itu dilihat oleh Nabi dan telah ditetapkan oleh Nabi.
Dalil
Ke – 9
عَنِ الْعَوَامِ بْنِ حَمْزَةَ قَالَ :
سَأَلْتُ اَبَا عُثْمَانَ عَنِ الْقُنُوْتِ فِى الصُّبْحِ قَالَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ
قُلْتَئُ عَمَّنْ ؟ قَالَ عَنْ اَبِى بَكْرِ
وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ. ( رواه البيهقى )
Artinya
:
“Dari Awam bin Hamzah, beliau berkata : saya bertanya kepada Abu Utsman
tentang Qunut pada Shalat Subuh, beliau menjawab, sesudah Ruku’. Saya bertanya
lagi, Fatwa siapa itu? Jawabnya Fatwa Abu Bakar, Umar dan Utsman Ra.
HR. Imam Baihaqi-lihat Baihaqi II hal. 202.
Dalam
riwayat ini ternyata bahwa 3 orang Khalifah Rasyidin, yaitu Abu Bakar, Umar dan
Utsman Qunut pada Shalat Subuh sesudah Ruku’. Khalifah
Rasyidin itu adalah Panutan
Umat Islam, karena Rosululloh SAW. Menyuruh Umat Islam supaya mengikut kepada beliau.
Dalil
Ke – 10
Tersebut
dalam hadits Abu Daud :
عَنِ
الْبَرَّاءِبْنِ عَازِبٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ كَانَ يَقْنُتُ فِى صَلَاة ِالصُّبْحِ.(رواه
ابو داود)، سنن ابو داود الجزء 2 ص. 68.
Artinya : “ Dari Barra bin ‘Azib
Ra. Beliau berkata : Bahwasanya Rosululloh SAW. Qunut pada Shalat Shubuh”. ( HR. Abu Dawud ), (Sunan Abu Daud II hal. 68).
Jelas
sekali bahwa Rosululloh SAW. Berqunut pada Shalat Subuh, dan kita pun harus Qunut pula
karena Nabi kita itu adalah panutan yang baik bagi kita. Adapun
Do’a Qunut yang lebih baik ialah “Allahummahdini” sampai kepada akhirnya.
Dalil Ke - 11
Telah
dinyatakan begini :
قَالَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيَّ رَضِىَ
اللهُ عَنْهُمَا عَلَّمَنِى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ
اَقُوْلَهُنَّ فِى الْوِتْرِ : اَللّٰهُمَّ اهْدِنِى فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى
فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِى فِيْمَا اَعْطَيْتَ
وَقِنِى شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ وَلَا يَذِلُّ
مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ.( رواه
الترمذى ) صحيح الترمذى جزء 2 ص. 250-251
Artinya : “Berkata Hasan bin Ali
Ra. Rosululloh SAW. Mengajarkan kepada saya Do’a – do’a yang akan saya baca
dalam Qunut Witir, yaitu : “Allahummahdini fiman hadait wa ‘afini fiman ‘afait dst ...”. ( HR. Imam Tirmidzi ), Kitab Shahih Tirmidzi Juz II hal. 250 – 251.
Walaupun
sayidina Hasan bin Ali mengatakan bahwa Do’a ini untuk dibaca dalam Shalat
Witir, tetapi Cara-cara Qunut dalam Shalat Witir sama dengan Qunut Shalat
Shubuh, karena ada riwayat begini :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَغَيْرِهِ أَنَّ
النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُعَلِّمَهُمْ هٰذا الدُّعَاءِ
لِيَدْعَوْا بِهِ فِى الْقُنُوْتِ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ. ( رواه
البيهقى )
Artinya : “Dari Ibnu Abbas dan
lainnya, bahwasanya Rosululloh SAW. Mengajarkan Do’a ini (Allahummahdini dst ...) untuk Do’a Qunut
dalam Shalat Subuh”. ( HR. Imam Baihaqi ) Baihaqi II hal. 210.
Dan pula
diriwayatkan :
عَنْ
مُحَمَّدِ بْنِ الْحَنِفِيَّةِ وَهُوَ ابْنُ عَلِيِّ ابْنِ اَبِى طَالِبٍ رَضِىَ
اللهُ عَنْهُ قَالَ : اِنَّ هٰذَا الدُّعَاءٍ هُوَ الَّذِى كَانَ اَبِىْ يَدْعُوْ
بِهِ فِىْ صَلَاةِ الْفَجْرِ فِى قُنُوْتِهِ. ( رواه البيهقى )
Artinya :
“Dari Muhammad bin Hanafiyyah, ia itu adalah anak Ali bin Thalib, beliau
berkata : Bahwasanya Do’a ini (Allahummahdini dst ...) itulah Do’a yang
dibaca bapak saya dalam Qunut pada Shalat Subuh”. ( HR. Imam Baihaqi ),
Baihaqi Juz II hal 209.
Dengan demikian Jelaslah bahwa dalam banyak riwayat Hadits mengatakan Bahwa
Rosululloh SAW telah banyak mengajarkan tentang Qunut dan mengajurkan pada
Umatnya untuk dikerjakan karena Rasul sendiri juga mengerjakan.
Dalil
Ke - 12
Tersebut
dalam kitab hadits begini :
عَنْ
اَبِىْ هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوْعِ فِى صَلَاةِ الصُّبْحِ
فِى الرَّكْعَةِ الثَّانِيَّةِ رَفَعَ يَدَيْهِ فَيَدْعُو بِهٰذَا الدُّعَاءِ اَللّهُمَّ
اهْدِنِى فِيْمَنْ هَدَيْتَ اِلٰى اٰخِرِهِ. ( رواه
الحاكم وصححه )
Artinya
: “Dari Abu Hurairah Ra. Beliau berkata : Rosululloh SAW. Apabila mengangkat kepalanya dari
Ruku’ pada Shalat Subuh, pada Raka’at yang kedua, beliau mengangkat kedua
tangannya dan Berdo’a dengan Do’a ini, yaitu “Allahummahdini fiman hadait ….
Dst. ”. ( HR.
Imam Hakim ), dan beliau mengatakan bahwa hadits
ini Sahih-Mahalli I hal. 157.
Imam
Hakim yang meriwayatkan hadits ini mengatakan dengan tegas bahwa Hadits ini,
Hadits Sahih, bukan Hadits Dha’if, maka jika ada
orang yang mengatakan bahwa Hadits ini Dha’if jelaslah tidak
bisa diterima.
Pada
hakekatnya Dalil itu tidak perlu banyak, tetapi cukup satu saja bagi orang yang
beriman dengan Allah dan Rosul-Nya, Namun disini kami
kutipkan banyak Riwayat Hadits tentang Hukum Qunut dengan maksud untuk
meyakinkan banyak orang bahwa Qunut itu adalah suatu Ibadah yang diajarkan dan
dianjurkan oleh Rasulullah SAW kepada Umatnya untuk dikerjakan.
Dalil Ke - 13
Telah
diriwayatkan begini :
قَالَ الْبَيْهَقِىُّ: إِنَّ عَدَدَّا
مِنَ الصَّحَابَةِ رَفَعُوا اَيْدِيَهُمْ فِى الْقُنُوْتِ.
( رواه البيهقى )
Artinya :
“Berkata Imam Baihaqi : Bahwasanya sekumpulan Sahabat Nabi Ra. Mengangkat
tangan dalam Berdo’a
Qunut”. ( HR. Imam Baihaqi ), Baihaqi II hal. 211.
Nabi
dan Sahabat-sahabat Nabi adalah panutan
umat Islam. Nabi Muhammad SAW. Mengangkat tangan beliau dalam berdo’a
Qunut dan begitu juga Sahabat-sahabat
beliau. Kita Umat Islam Wajib mengikuti Nabi dan Sahabt-sahabat itu.
Dalil
Ke - 14
Tersebut
dalam kitab hadits :
عَنْ سَعْدِ بْنِ اَبِى وَقَاصٍ رَضِىَ
اللهُ عَنْهُ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مِنْ مَكَّةَ نُرِيْدُ الْمَدِيْنَةَ فَلَمَّا كُنَّا قَرِيْبًا مِنْ غَزْوَرَاءِ
نَزَلَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ فَدَعَا اللهُ سَاعَةَ ثُمَّ خَرَّسًا سَاجِدًا فَعَلَهُ
ثَلَاثًا. ( رواه ابو داود )
Artinya :
“Dari Sa’ad bin Ali Waqas Ra. Beliau berkata : Kami keluar bersama Rosululloh SAW. Dari Makkah menuju
Madinah. Setelah sampai di Azwara’ beliau turun dari
kendaraannya kemudian beliau mengangkat tangannya dan Berdo’a sesaat, kemudian Beliau
sujud. Beliau
melakukannya tiga kali”. ( HR. Abu Daud ) Sunan Abu Daud III hal.
89.
Dari hadits ini
ternyata bahwa Rosululloh SAW. Mengangkat tangannya ketika berdo’a. oleh karena bacaan Allahummahdini dalam Qunut Subuh
adalah Do’a maka harus mengangkat tangan ketika membacanya, sesuai dengan
hadits ini.
Dalil
Ke – 15
Tersebut
dalam kitab hadits :
وَقَالَ
اَبُوْ مُوْسٰى دَعَا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ
وَرَأَيْتُ بَيَاضَ اِبْطَيْهِ. ( رواه البخارى )
Artinya : “Berkata
sahabat Nabi Abu Musa (Al Asy’ari) : Rosululloh SAW. Berdo’a, dan kemudian beliau mengangkat tangannya, saya lihat putih
ketiak beliau”. ( HR. Imam Bukhari ), Fathul
Bari XIII hal. 391.
Dalam riwayat lain
disebutkan :
وقَالَ اِبْنُ عُمَرَ : رَفَعَ النَّبِىُّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ وَقَالَ اَللّٰهُمَّ اِنِّى اَبْرَأُ اِلَيْكَ
مِمَّا صَنَعَ خَالِدٌ. ( رواه
البخارى
)،
فتح البارى الجزء 13 ص. 391
Artinya : “Berkata
Sahabat Nabi Ibnu Umar : Nabi mengangkat tangannya dan berdo’a : Ya Allah saya
berlepas diri dari perbuatan Kholid bin Walid”. ( HR. Bukhari).
Melihat
hadits Bukhari ini maka menjadi terasa aneh mendengar fatwa sebagian mubaligh
yang menfatwakan bahwa mengangkat tangan ketika berdo’a itu bukan Sunnat, apakah
mereka tidak mengetahui dengan hadits ini ataukah sengaja tidak menuruti Sunnah
Rasul, atau bagaimana ? Imam Bukhari menjadikan kedua hadits
ini sebagai judul karanganya : Mengangkat tangan dalam berdo’a.
Dalil Ke - 16.
عَنِ النَّبِىِّ صّلّٰى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ اللهَ حَىُّ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِى اِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ
اِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صُفْرًا خَائِبَتَيْنِ.( رواه الترمذى,
الجزئ 13 ص:68)
Artinya : “Nabi
bersaba : bahwasanya Tuhanmu Hidup dan Pemurah, ia malu dari hamba-Nya akan
menolak Do’anya, kalau hamba itu berdo’a mengangkat tangan kepadanya”. ( HR.
Imam Abu Daud dan Tirmidzi ), Sahih Tirmidzi XIII hal. 68.
Dalam hadits ini
Seolah-olah Nabi memerintahkan kiranya Ummat Islam harus mengangkat tangannya
ketika Berdo’a karena Do’a yang
dilakukan sambil mengangkat tangan akan dikabulkan Tuhan, tidak kosong
kembalinya.
Dalil Ke – 17
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ بْنِ سَمْرَةَ
: فَانْتَهَيْتُ اِلَيْهِ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ يَدْعُوْ وَيُكَبِّرُ وَيَحْمَدُ
وَيُهَلِّلُ.
( رواه مسلم ) شرح مسلم الجزء السادس ص:216.
Artinya : “Dari Abdurrahman bin Samurah : “Maka sampailah aku kepada
Rosululloh SAW. Dan beliau sedang mengangkat tangnnya berdo’a, takbir, tahmid
dan tahli”.( HR. Imam Muslim ),
syarah Muslim VI hal. 216.
Dalam hadits ini
nyata bahwa Nabi Muhammad SAW. Mengangkat tangan beliau dalam Berdo’a didalam shalat
Kusuf.
Dalam Hadits Muslim
juga disebutkan begini :
قَالَ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ بْنِ سَمْرَةَ
: فَأَتَيْتُهُ وَهُوَ قَائِمٌ فِى الصَّلَاةِ رَافِع يَدَيْهِ فَجَعَلَ يُسَبِّحُ
وَيَحْمَدُ وَيُهَلِّلُ وَيُكَبِّرُ وَيَدْعُوْ.( رواه مسلم )، شرح
مسلم الجزء السادس ص: 217.
Artinya : “Berkata
sahabat Nabi Abdurrahman bin samurah :
Maka saya datang kepada Nabi, beliau sedang Berdo’a dalam Shalat sambil
mengangkat tangannya”. ( HR. Muslim ) Juz VI hal. 217.
II. PENDAPAT ULAMA TERKEMUKA PERIHAL QUNUT SHUBUH
Pendapat Ke – 1
Tersebut dalam Kitab
Al Umm pada Juz I halaman 205 berkata Imam Syafi’i Rahimahullah :
وَلَا
قُنُوْت فِى شَىْءٍ مِنَ الصَّلَوَاتِ اِلَّا الصُّبْحَ اِلَّا اَنْ تَنْزِلَ نَازِلَةٌ
فَيَقْنُتُ فِى كُلِّهَا إِنْ شَاءَ الإِمَام. ألأم الجزء
الأول ص:205
Artinya : “Tiada Qunut
dalam Shalat selain Subuh, kecuali kalau ada bala, maka boleh Qunut kalau Imam menyukai”.
Maksud beliau adalah
bahwa Qunut hanya dilakukan dalam Shalat Subuh bukan dalam Shalat 4 waktu yang
lain, kecuali klau ada musibah, jika imam menghendaki.
Pendapat Ke – 2 .
Tersebut dalam kitab
Syarah Al Muhazzab pada Juz III hal. 492 berkata pengarangnya Imam Nawawi
Rahimahullah :
وَالسُّنَةُ فِى صَلاَةِ الصُّبْحِ اَنْ
يَقْنُتُ فِى الرَّكْعَةِ الثَّانِيَّةِ لِمَا رَوَى اَنَسٍ. المجموع
الجزء الثالث ص: 462.
Artinya : “Adalah
disunnah Qunut pada Shalat Subuh di Raka’at kedua sebagaimana diriwayatkan oleh
Anas Ra”.
Pendapat Ke - 3
Tersebut dalam kitab
I’anatut Thalibin Juz I hal. 158 berkata pengarangnya Syeikh Sayid Bakri Syatha
:
قَوْلُهُ وَسُنَّ قُنُوْت بِصُبْحٍ اَىْ
لِمَا صَحَّ اَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَازَالَ يَقْنُتُ حَتّٰى فَارَقَ
الدُّنْيَا.
اعانة الطالبين الجزء الأول ص : 158.
Artinya : “Perkataannya, dan Sunnah Qunut pada Shalat Subuh,
berdasarkan Hadits Sahih, bahwasanya Rosululloh SAW. Qunut sampai beliau
meninggal”.
Pendapat
Ke – 4
Tersebut dalam kitab
Al ‘Aziz Syarah Al Wajiz berkata Pengarangnya Al Qasim Abdul Karim bin Muhammad
Ar Rifa’I pada halaman 412 begini :
وَيُسْتَحَبُّ الْقَنوتُ فِى الصُّبْحِ. العزيز
شرح الوجيز ص : 412.
Artinya : “Dan Sunnah
Qunut pada Shalat Subuh”.
Pendapat
Ke – 5
Tersebut dalam kitab
Mahalli juz I hal. 157 berkata pengarangnya Syeikh Al ‘Allamah Jalaluddin
Mahalli :
وَيُسَنُّ الْقُنُوْتُ فىِ اعْتِدَالِ
ثَانِيَّةِ الصُّبْحِ وَهُوَ اَللّٰهُمَّ اهْدِنِى فِيْمَنْ هَدَيْتَ اِلٰى اٰخِرِهِ. المحلى
الجزء الأول ص : 153.
Artinya : “Dan Sunnah
Qunut pada I’tidal raka’at Subuh yang kedua, yaitu Allahummahdini fiman hadaita
…” dst, dst”.
Pendapat Ke – 6
Tersebut
dalam Kitab Bujairimi pada Juz II hal. 44 begini :
وَبَعْدَ الدُّخُوْلِ فِيْهَل شَيْئَانِ
: اَلتَّشَهُدُ الأَوّلُ وَالْقُنُوْتُ فِى الصَّبْحِ. البجيرمى
الجزء الثانى ص:44.
Artinya : “Yang Sunnah dalam Shalat ialah Tasyahud pertama dan Qunut Subuh”.
Maksudnya disini ialah Sunnah
Hai-ah.
Pendapat Ke – 7
Tersebut dalam kitab
Nihayatuz Zain halaman 66 berkata
pengarangnya Syeikh Nawawi Bantan, seorang Ulama Indonesia yang terkenal di Makkah
pada abad yang lalu :
وَقُنُوت
بِصُبْحِ. نهاية
الزين ص:66.
Artinya : “Dan Sunnah
Qunut dalam Shalat Subuh yaitu pada I’tidal raka’at yang kedua, sesudah membaca
Do’a yang biasa”. Nihayatuz Zain hal. 66.
Dari pendapat – pendapat para Ulama tersebut
semakin kuatlah keyakinan kaami bahwa Qunut itu Hukumnya Sunnah, sehingga kita tidak perlu lagi merasa ragu untuk
melakukannya.
III. PENDAPAT ORANG
– ORANG YANG MEMBANTAH.
Pendapat Ke - 1
Rosululloh
SAW pernah bersabda :
اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا بَعْدَ الرُّكُوْعِ يَدْعُوْ عَلٰى اَحْيَاءِ مِنَ الْعَرَبِ
ثُمَّ تَرَكَهُ.
رواه البخارى.
Artinya : “Bahwa Rosululloh SAW. Qunut satu bulan mendo’akan celaka bagi suku Arab, kemudian beliau
hentikan Qunut itu”. (H Sahih Riwayat Imam Bukhari dan Muslim).
Jawab kita :
Kita mengetahui
hadits ini, memang hadits ini jelas sahih tidak diragukan lagi, karena tersebut
dalam Kitab Bukhari dan Muslim tetapi yang dihentikannya apa?
Yang dihentikan ialah
mendo’akan orang, yakni do’a minta celakakan orang lain.
Bahkan dalam hadits
Imam Bukhari dan Muslim juga ada yang lebih jelas keterangannya, yang artinya
begini :
“Dari Abu Harirah
Ra. Beliau berkata : Bahwasanya Rosululloh SAW. Qunut kemudian Ruku’ sebulan,
mendo’akan si Anu dan si Anu, kemudian beliau hentikan mendo’akan orang itu”. (HR. Bukhari dan Muslim ), Syarah Muhadzab Juz III
hal. 504.
Dan Imam
Nawawi berkata dalam Syarah Muhaddzab juga pada jilid 3 hal. 505 begini :
وَاَمَّا الْجَوَابُ عَنْ حَدِيْثِ اَنَسِ
وَاَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا فِىْ قَوْلِهِ ثُمَّ تَرَكَهُ فَالْمُرَادُ
تَرْكُ الدُّعَاءِ عَلٰى اُولَئِكَ الْكُفَّارِ وَلَعْنَتِهِمْ فَقَطْ لَا تَرْكُ
جَمِيْعِ الْقُنُوتِ اَوْ تَرْكُ الْقُنُوْتِ فِى الصُّبْحِ وَهٰذَا اَلتَّأْوِيْلَ
مَتَعَيَّنٌ لِأَنَّ حَدِيْثَ اَنَسٍ فِى قَوْلِهِ لَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ حَتَّى فَارَقَ
الدُّنْيَا. صحيح صريح. المجموع الجزء الثالث ص : 505.
Artinya : “Adapun
jawaban atas Hadits Anas dan Abu Hurairah, dalam menerangkan perkataan Nabi
“Kemudian beliau tinggalkan” bahwa yang dimaksud ialah menghentikan do’a
mengutuk orang – orang kafir itu, saya tidak menghentikan semuanya, atau
meninggalkan Qunut selain Shalat Subuh. Tafsir begini mesti, karena ada pula Hadits
Anas bahwa Nabi Muhammad SAW. Terus Qunut dalam Shalat Subuh sampai beliau Wafat,
ini nyata dan sah”.
Pendapat Ke – 2 :
Ada orang mengajukan pendapat, bahwa
seorang tabi’in namanya Sa’ad bin Thariq bertanya kepada bapaknya begini :
عَنْ اَبِىْ مَالِكٍ اَلْأَشْجَعِيِّ قَالَ
: قُلْتُ لِأَبِى : يَا اَبَتِ اِنَّكَ قَدْ صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاَبِىْ بَكْرٍ وَعُثْمَانَ وَعَلِىِّ ابْنِ اَبِى طَالِبٍ
هٰهُنَا بِالْكُوْفَةِ نَحْوُ خَمْسَ سِنِيْنَ , اَكَانُوْ يَقْنُتُوْنَ ؟ فَقَالَ
اَىْ بَنِى مُحْدَثٌ. رواه الترمذى, صحيح الترمذى الجزء
الأول ص 192 قال ابن العربى هذا الحديث لم يصح.
Artinya : “Dari Abi Malik Asja’i beliau bertanya kepada bapaknya
(Thariq) : Hai Bapakku, Bapak telah Shalat dibelakang Rosululloh SAW., dibelakang Abu
Bakar, Umar, Utsman, dan Ali disini di Kaufah lk. 5 tahun, apakah beliau –
beliau itu Qunut pada waktu fajar ? jawabnya : O, Anakku, itu adalah pekerjaan
yang diada – adakan”. ( tersebut dalam kitab Tirmidzi juz II hal. 192).
Tetapi dalam Kitab
Sahih Tirmidzi disebutkan Hadits ini dari Abi Malik Al Asy-ya’i. Menurut Imam
Tirmidzi nama Abi Malik Al Asy-ya’i ini , adalah Sa’ad bin Thariq.
Nah, dapat dilihat
dari keterangan Thariq Bapak Sa’ad ini bahwa Rosululloh SAW., Abu Bakar, Utsman dan Ali semuanya tidak ada yang Qunut, dan
Qunut itu adalah Bid’ah, yaitu hal yang diada – adakan saja, kata mereka.
Inilah dalil yang kuat
bagi orang – orang yang mengatakan Qunut itu Bid’ah.
Jawab kita :
Dalam Kitab Tirmidzi
yang merawikan Hadits ini, Imam Abi Bakar bin Al ‘Arabi yang terkenal dengan
nama Ibnul ‘Arabi telah menyambung begini : “Telah sah dan tetap bahwa Rosululloh SAW. Qunut
dalam Shalat Subuh, telah tetap pula bahwa Nabi ada Qunut sebelum Ruku’ atau
sesudah Ruku’, telah tetap pula bahwa Nabi ada Qunut Nazilah, dan Qunut pula Khalifah-khalifah
di Madinah, dan Sayyidina Umar mengatakan Qunut itu Sunah, telah diamalkan pula
di Masjid Madinah, karena itu jangan kamu melihat dan jangan memperdulikan
ucapan yang lain daripada itu”.
Kalau benar Thariq
berkata begitui, maka itu hal yang sangat mengherankan, karena hadits-hadits Qunut
ada yang tersebut dalam Hadits – hadits Bukhari, dan banyak sekali Sahabat – sahabat Nabi yang
merawikan dan mengamalkan.
Nampaknya Thariq ini
tidak dipercayai perkataannya dan mungkin ini bukan perkataan Thariq , tetapi yang disebut – sebut orang adalah ucapan Thariq. Oleh karena itu perkataan Thariq ini harus
diteliti, karena beribu-ribu Orang melihat Nabi SAW Qunut, begitu pula Sahabat
– sahabat beliau.
Menurut kaidah Ushul
Fiqh :
اَلْمُثْبَتُ مُقَدَّمٌ عَلٰى النَّافِى.
Artinya : “Orang
yang mengatakan ada, didahulukan untuk dipegangi dari orang-orang yang
mengatakan tidak ada”.
Ini logis, karena
orang yang mengatakan “ada” lebih banyak ilmunya daripada orang
yang mengatakan “tidak ada”. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perkataan
Thariq yang diriwayatkan anaknya Sa’ad ini, tidak dapat diterima.
Pendapat Ke – 3
Telah diriwayatkan
ucapan seorang Sahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud begini :
مَا قَنَتَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِىْ شَىْءٍ مِنْ صَلَاتِهِ.
Artinya : “Dari
Ibnu Mas’ud beliau berkata : tidak pernah Qunut Rosululloh SAW. Dalam Shalat
apapun”.
Jawab kita :
Kalau benar Abdullah
bin Mas’ud mengatakan begini, maka beliau telah tertinggal dari sahabat-sahabat
Nabi yang lain. Sahabat – sahabat yang lain melihat bahwa Nabi
Muhammad SAW. Pernah Qunut Nazilah pernah Qunut pada Shalat Maghrib dan Shalat Subuh,
tetapi Abdullah bin Mas’ud mengatakan tidak melihat.
Ya, jawabnya seperti
jawab kita pada pendapat yang kedua juga, yaitu pendapat orang yang mengatakan “ada”,
didahulukan untuk dipegangi daripada pendapat orang yang mengatakan “tidak
ada” atau “tidak melihat”, karena yang mengatakan ada, melihat, lebih
banyak tahu dan lebih banyak ilmunya.
Dan
pula Imam Nawawi mengatakan dalam kitab “Al Majmu” bahwa riwayat Ibnu
Mas’ud ini sangat dha’if / sangat lemah karena di antara yang meriwayatkannya
terdapat Nama Muhammad bin Jabir as Suhaimi, yang ucapannya selalu ditinggalkan
( oleh Ahli-ahli Hadits ).
Tersebut
dalam kitab “Mizanul I’tidal”, karangan Zahabi, bahwa Muhammad bin Jabir
al Yamami as Suhaimi adalah orang dha’if menurut perkataan Ibnu Mu’in, Imam
Nisai, Imam Bukhari, mengatakan : ia dalam waktu yang akhir pelupa, dan
kitabnya telah hilang. ( Mizanul I’tidal juz III hal. 492 ).
Pendapat Ke – 4 .
اَلْقُنُوْتُ فِى الصُّبْحِ بِدْعَةٌ
Artinya : “Qunut
dalam Shalat Subuh itu Bid’ah”. ( ini diriwayatkan dalam kitab Hadits Baihaqi).
Jawab kita :
Hadits ini sangat
lemah karena salah seorang yang merawikan Hadits ini terdapat Abu Laila Al Kufi
yang riwayatnya matruk ( ditolak oleh Ahli-ahli Hadits ). Dengan demikian Hadits
ini tidak dapat dijadikan sebagai Acuan dalam menetapkan Hukum Qunut.
Pendapat Ke - 5
Ada lagi orang yang
mengajukan Dalil bahwa Ummu Salamah Istri Nabi mengatakan begini :
أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الْقُنُوْتِ فِى الصُّبْحِ. رواه
البيهقى.
Artinya : “Bahwasanya Nabi
Muhammad Saw. Melarang Qunut Shalat Subuh”.
Jawab kita :
Tersebut dalam Kitab
Syarah Muhaddzab, bahwa Orang – orang yang meriwayatkan Hadits ini terdapat
Muhammad bin Ya’la Anbasah bin Abdurrahman dan Abdullah bin Rifa’i.
Tersebut dalam Kitab
Mizanul I’tidal Imam Bukhari
mengatakan bahwa Muhammad bin Ya’la orang Kufah banyak
menghilangkan Hadits, sehingga Ia
ditinmggalkan (matruk). (Mizanul I’tidal juz IV hal. 70).
Diantara
yang termasuk ditinggalkan ( Matruk ) lainnya antara lain Muhammad bin ‘Anbasah
bin Humad pembohong (Mizanul I’tidal juz III hal. 686), dan Abdullah bin Rifa’ah adalah banyak
merawikan hadits yang munkar (Mizanul I’tidal juz II hal. 422). Ketiga orang ini,
menurut Imam Daruqutni, adalah orang – orang yang tidak dipercaya perkataannya.
Untuk menutup risalah
ini marilah kita berdo’a mudah – mudahan kita termasuk dalam rombongan orang – orang
yang mengikut ajaran Rosulullloh SAW, Khalifah Rasyidin dan para Ulama- ulama Islam, Imam – imam
Mujtahid yang sangat berjasa dalam menegakkan Islam yang suci, Aamiin.